Friday, March 15, 2013

Proses Kreatifku (2)

Proses Kreatifku (2)

Di masa SMA, minatku terhadap dunia seni sastra semakin kuat. Di masa itu, aku mulai membaca karya-karya sastra dari majalah Hai, Kompas, Pikiran Rakyat dan Koran Mingguan Swadesi. Penulis-penulis seperti Gola Gong, Gus Tf, Acep Zamzam Noor, Soni Farid Maulana, Remi Novaris DM, dll, kerap aku jumpai tulisannya di majalah Hai. Ruang pertemuan kecil di Pikiran Rakyat yang diasuh oleh Saini KM menarik perhatianku untuk membacanya, selain tentu saja membaca sajak-sajak yang ditampilkan di sana. Cerita bersambung di Kompas tak urung aku ikuti setiap hari. Sedangkan di koran Swadesi, aku mengikuti kolom sastra warung Diha yang memberikan kiat-kiat bagi penulis. Aku sering menulis surat kepada pengasuhnya, Mbak Diah Hadaning, sambil mengirimkan sajak-sajakku. Hampir tak percaya, suatu minggu aku baca di koran Swadesi pertanyaan dariku dimuat dan diJawab oleh Mbak Diah Hadaning sendiri. Kalau tidak salah pertanyaanku saat itu adalah tentang bagaimana cara mengatasi kemacetan ide dalam berkarya.

Di saat SMA itu, kegiatanku berkesenian dan menulis bertambah. Aku mengurus majalah dinding SMA dan juga menjadi pendiri teater. Puisi-puisiku semakin banyak. Berbagai tema puisi aku ambil, antara lain cinta, politik, sosial, ketuhanan dll. Namun yang cukup dominan sajak yang terlahir adalah sajak-sajak cinta dan patah hati. Terlebih lagi ketika aku jatuh cinta dan patah hati pada seorang adik kelas.

Hampir setiap saat aku menulis sajak. Sajak-sajak yang penuh semangat keremajaan itu seringkali aku bacakan sendiri di sebuah radio di dekat SMA-ku. Setiap hari Jum’at malam pembacaan sajak yang sudah direkam sebelumnya disiarkan pada pukul 22.00 -24.00. Aku pun mulai rajin mengirim karya ke berbagai media dari media instansi yang dilanggani abah dan ibuku, serta majalah dan koran umum.

Kegigihan untuk terus menerus mengirimkan karya itu mulai memperlihatkan hasil. Karya-karyaku mulai dimuat di beberapa media instansi, yaitu di majalah media pembinaan dan tabloid mingguan pelajar. Senang sekali karyaku bisa dimuat media seperti itu. Aku mendapatkan surat-surat dari para pembaca yang menanyakan bagaimana caranya menulis puisi. Akupun menjawab sekenanya saja, malah akhirnya pembicaraan menjadi tidak fokus kepada puisi, tapi kenalan dan membicarakan lain hal.

Kegairahanku terhadap sastra semakin bertambah. Dari perpustakaan sekolah, aku membaca banyak lagi buku-buku puisi, antara lain karya: Kahlil Gibran, Heru Emka, Zawawi Imron, Chairil Anwar, Subagyo Sastrowardoyo, Sapardi Djoko Damono, Rendra, Fariduddin Attar, dll. Selain itu, aku juga suka mengkliping artikel-artikel tentang sastra dan puisi dari berbagai media.

Walaupun di SMA aku mengambil jurusan fisika, aku berpikir kalau kuliah aku tidak mau meneruskan yang berhubungan dengan fisika, kimia atau matematika. Aku sadar, bahwa ternyata aku payah dalam hal hitung menghitung, sering ceroboh, kurang teliti! Dari berbagai alternatif yang ada aku memiliki gambaran bahwa aku ingin masuk ke bidang yang aku minati: kepemimpinan! Aku memilih jurusan manajemen. Selain itu sebenarnya aku memiliki keinginan juga untuk masuk ke IKJ dan jurusan sastra. Hanya saja dengan berbagai pertimbangan, usaha serta nasib, mengantarkanku ke jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Unibraw, Malang.

Di masa-masa kuliah ini, kegiatanku berkesenian serta berorganisasi semakin menjadi. Hampir semua unit kegiatan mahasiswa di fakultasku baik intra dan ektra aku masuki. Dari semua kegiatan organisasi mahasiswa itu, yang sangat berpengaruh bagi minatku menulis dan berkesenian adalah saat mengikuti pers mahasiswa dan teater. Aku aktif unit kegiatan pers mahasiswa fakultas dan universitas. Begitu juga di teater, aku menjadi salah seorang pendiri dan sekaligus menjadi ketua teater mahasiswa di fakultasku. Dan pernah juga menjadi ketua teater di tingkat universitas.

Kegiatan di organisasi mahasiswa, mendorongku untuk membaca buku-buku puisi pamflet Rendra. Aku pernah sangat terkagum-kagum pada sebuah film yang dibintangi Rendra, judulnya: “Yang Muda Yang Bercinta.” Segala gaya membaca puisi Rendra aku tiru saat pembacaan puisi. Dan memang, aku sering didaulat untuk membacakan sajak pada saat acara-acara demonstrasi mahasiswa dan acara penyambutan mahasiswa. Aku masih ingat bagaimana sebagai mahasiswa semester awal, dalam acara pemilihan Badan Perwakilan Mahasiswa, membacakan sajak Rendra yang sarat kritik. Di lain kesempatan di depan ribuan mahasiswa baru di stadion di kampusku, aku bawakan sajak seakan-akan saat itu aku menjadi Rendra sang burung merak. Selain sajak Rendra, sajak-sajak Emha Ainun Nadjib sering menjadi bahan pembacaan sajakku di depan umum. Tentu saja ada beberapa sajakku sendiri yang aku baca, dan pernah diminta oleh seorang intel.

Aku masih rajin menulis sajak dan mengirim ke berbagai media. Di Malang aku bertemu dengan Akaha Taufan Aminudin (ATA), seorang penggerak kegiatan sastra di daerah Batu. Aku sering berkunjung ke rumahnya dan berdialog banyak hal, di rumahnya yang menjadi sekretariat HP3N yang menerbitkan buletin sastra. Aku mengirim sajak-sajakku untuk buletin itu dan mengikuti antologi serta perlombaan yang diadakan HP3N. Beberapa sajakku menghiasi buletin serta antologi yang diterbitkan oleh HP3N-Batu itu. Bahkan ada yang masuk menjadi salah satu puisi terbaik. Selain berdiskusi di rumahnya, ATA juga mengajakku untuk membaca puisi di sebuah radio di atas kota batu (Songgotiti). Setiap malam setelah pukul 24, kami turun ke kota Batu berjalan kaki, dan sebelum kembali ke rumah ATA, bersantai dulu di warung-warung dekat alun-alun Batu, yang saat itu masih ada tugu apelnya.

Lewat organisasi yang dikelola ATA inilah aku mengenal banyak nama-nama penulis dan berkenalan langsung saat ada pemberian hadiah lomba yang diadakan HP3N. Aku mengenal Kusprihyanto Namma, Bonari Nabonenar dll dari “Revitalisasi Sastra Pedalaman” dan ikut menghiasi halaman jurnalnya dengan puisiku. Aku semakin banyak mengenal seniman-seniman sastra di Kota Malang.

Selain ATA, ada sosok lain yang juga membawa pengaruh kepadaku, yaitu: Mas Wahyu Prasetya seorang penyair yang sudah banyak mempublikasikan karyanya. Selain itu adalah pak Hazim Amir (Alm), seorang dosen sastra IKIP Malang, yang cukup disegani dan dikenal sebagai budayawan dari Kota Malang. Dengan dua orang ini aku sering berdialog membicarakan banyak hal, selain meminjam buku-buku mereka yang menarik untuk aku baca. Keduanya memiliki karakter keras. Tidak memberikan ampun bagi karya-karya yang dianggap jelek. Wahyu Prasetya, saat aku perlihatkan beberapa puisiku, dia baca dan dengan seenaknya menyilang sajak-sajak yang dianggapnya jelek.

Suatu ketika, beberapa puisiku dimuat di Republika. Teman-teman banyak yang mengucapkan selamat. Bahkan Pak Hazim Amir, saat bertemu denganku, langsung menyapaku: “hei, penyair.” Wah, aku sudah menjadi penyair! Kataku dalam hati.



Google+ Followers

Popular Posts

Followers